1. hingga mencapai urethra posterior. Selama prosedur dijalankan

1.    
IVP (intravenous pyelogram)

Disebut juga intravenous utherograpm,
teknik ini sudah menjadi teknik yang kurang populer dibandingkan dengan
pencitraan CT yang mampu memberikan gambaran seluruh abdomen. IVP memberikan
pencitraan renal, ureter, dan vesika urinaria. IVP mengunakan material kontras
yang disuntikkan via vena mediana cubiti dan akan terlihat pada urin.

Pencitraan ini memerlukan radiografi abdominal untuk mengevaluasi batu ginjal
dan kebersihan usus. Gas dan feses akan mengganggu pencitraan dan mengaburkan
morfologi ginjal dan salurannya.1, 2

2.    
Retrograde urethrogram (RUG)

RUG merupakan cara paling umum dan
pencitraan paling awal untuk urethra terkhusus pada segmen urethra anterior.

Pasien akan diminta untuk berbaring 45? pada posisi RPO. Kateter Foley yang
memiliki dua buah fungsi: mengembangkan balon dan injeksi kontras dimasukkan ke
dalam urethra. Balon kateter (berisi larutan salin) dikembangkan pada fossa
navicularis dan cairan kontras (20-30 ml) diinjeksikan hingga mencapai urethra
posterior. Selama prosedur dijalankan tidak diperlukan lubrikasi karena akan berakibat
pada kerentanan pergerakan kateter. Pada dasarnya panduan menggunakan
fluoroskopi diperlukan selama prosedur, tetapi terkadang tidak memungkinkan
dalam kondisi darurat. Hasil pencitraan RUG terklasifikasi dalam lima tipe.

Tipe I merupakan kondisi patologis yang paling ringan. Selama injeksi cairan
kontras sfringter urethra eksternal akan tertutup yang mencegah cairan masuk ke
urethra bulbus dan posterior sehingga memerlukan tekanan lebih. Hal penting
dalam pencitraan RUG adalah hubungan bulbomembranosa (ujung distal urethra
membranosa) yang akan menjadi penilaian untuk menentukan prosedur operasi
selanjutnya. Pada kondisi normal, urethra posterior dan verumontanum terlihat
jelas dan dapat dijadikan acuan menentukan hubungan bulbomembranosa, kira-kira
1-1,5 cm ke arah distal dari inferior verumontanum.2, 3, 4, 5

3.    
Voiding cystourethrogram (VCUG)

VCUG biasanya dilakukan sebagai prosedur
lanjutan dari RUG. Berbeda dengan RUG yang digunakan untuk pencitraan urethra
bagian anterior, VCUG lebih digunakan untuk urethra posterior sehingga
merupakan salah satu bagian dari antegrade urethrogram. VCUG dilaksanakan
dengan prosedur mirip dengan RUG, tetapi berbeda pada lokasi injeksi kontras.

Pada VCUG kontras diinjeksikan ke dalam vesika urinaria baik melalui kateter
suprapubic atau transurethral. Pencitraan akan dilakukan selama pengeluaran
urin (voiding) yang akan menunjukkan beberapa perubahan antara lain pembukaan
vesika urinaria, perubahan bentuk urethra bulbus menjadi kurang berbentuk
konus, pemanjangan verumontanum, dan dilatasi 6-7 mm urethra membranosa meski
tidak signifikan dan tetap menjadi segmen tersempit. VCUG tidak memerlukan
anastesi (untuk kateter transurethral). Pencitraan VCUG biasanya digunakan
dalam kasus refluks vesicourethral yang menyebabkan urin bergerak kembali
menuju ureter dan ginjal dari vesika urinaria. Selain itu juga digunakan untuk
pengujian muktruisi normal, menentukan lokasi vesika urinaria pada wanita dan
obstruksi karena BPH pada pria. Dalam beberapa kasus dimana VCUG gagal mendapatkan
citra dari urethra posterior dan pada pasien dengan kateter suprapubic beberapa
klinisi menggunakan bantuan cystoscope dan radiokontras. 1, 2, 5, 6

4.    
Nephrostogram

Nefrostogram
juga menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam pelvis ginjal melalui hanya
saja bentuknya sedikit berbeda (melengkung pada pelvis renalis). Pencitraan ini
memerlukan kontras yang dapat mengindikasikan adanya obstruksi maupun
ekstravasi. Nefrostomi, alat yang digunakan, juga berguna untuk pembersihan
batu ginjal, pemberian kemoterapi, dan profilaksis untuk pasien dengan tumor di
pelvis renalis yang baru menjalani reseksi.2, 7

5.    
Computed Tomography

CT scan, meski memberikan citra 3D, tidak
menjadi pilihan utama dalam melakukan pencitraan saluran urinaria. Suatu
penelitian membuktikan bahwa CT scan hanya mampu mendeteksi satu dari tiga
cedera urethral posterior dan vesika urinaria. CT scan tidak spesifik digunakan,
tetapi dapat digunakan sebagai pencitraan awal nonspesifik untuk distorsi dan
kekaburan bulbocavernosus dan lempeng lemak urogenital, hematom otot
ischiocavernosus dan otot obturator internus. CT terkadang tidak menunjukkan
hasil yang baik dalam citra trauma urethra sebab penggunaan kateter Foley mencegah
ekstravasasi kontras dan menyebabkan kondisi tidak terdiagnosis. Penggunaan CT
scan biasanya ditujukan untuk deteksi obstruksi saluran urinaria (ginjal,
ureter, atau urethra), kehadiran masa ekstra renal yang mengganggu saluran
urinaria, dan lesi ginjal yang biasanya berupa kista. Setidaknya ada dua kista
yang memberikan reaksi berbeda terhadap penggunaan kontras dalam CT scan. Kista
biasa yang berdensitas rendah tidak akan memberikan perubahan dengan penambahan
kontras IV dan mudah terlihat. Kista malignan bersifat isodense dengan
parenkima ginjal sehingga membutuhkan kontras IV untuk memperjelas
batas-batasnya. Meski tidak untuk pencitraan trauma urethra, CT menghasilkan
citra khas untuk trauma urethra tipe II dan III. CT biasanya digabungkan dengan
pemeriksaan RUG. Penggunaan CT tidak dapat digunakan layaknya RUG yang
memberikan citra spesifik trauma urethra, tetapi dapat digunakan memberikan
citra pelvis secara menyeluruh, setidaknya meniadakan prosedur RUG yang tidak
perlu. CT scan tidak memerlukan anastesi.1, 2, 8

6.    
Magnetic Resonance Image

MRI tidak digunakan sebagai pencitraan
primer dan hanya digunakan untuk melengkapi mengingat citra kompleks yang bisa
dihasilkan. Citra MRI sendiri menunjukan perbedaan kontras jaringan halus. MRI
seringkali digunakan untuk evaluasi preoperative. MRI menjadi pencitraan yang
baik untuk evaluasi prostat dari sisi anterior-posterior, lateral, hingga
superior-inferior, mendeteksi defek urethral posterior dan keberadaan jaringan
parut di sekitarnya. MRI memiliki keterbatasan dalam memberikan hasil baik
untuk evaluasi urethra anterior kecuali menggunakan kontras. Dalam pencitraan
posisi prostat akurasinya mencapai kurang lebih 5mm pada 90% pasien, sedangkan
untuk defek urethra akurasi mencapai kurang lebih 5mm pada 85% pasien. Salah satu
model MRI yang digunakan khusus untuk pencitraan sistem urinaria adalah MRA
(magnetic resonance angiogram) yang dapat memberikan citra untuk arteri
renalis. Pencitraan ini dapat digunakan dalam mendeteksi penyempitan arteri
yang mengakibatkan tekanan darah tinggi.1, 2, 9, 10

7.    
Ultrasonografi

USG merupakan prosedur yang paling aman dan minim risiko
dibandingkan pencitraan lainnya yang menggunakan radiasi pengion. USG
menggunakan transduser yang akan menerima sinyal hasil pemantulan massa
viseral. USG abdominal memerlukan gel untuk membantu memperkuat sinyal
transmisi dan memudahkan pergerakan transduser, tetapi tidak diperlukan
anastesi. Pada saluran urinaria hilum renalis menghasilkan gema (echogenic),
piramida renalis akan menghasilkan sedikit gema yang disebut hypoechoic. Kista
akan menghasilkan pencitraan hitam yang berarti tidak ada gema (anechoic). USG transrektal
menggunakan transduser yang berbeda dengan USG abdominal. Transduser berbentuk
tabung tipis seukuran jari yang dimasukkan ke dalam rektum dengan prostat
berada di sebelahnya. USG transrektal dapat digunakan melihat kelainan pada
prostat secara morfologi, tetapi tidak dapat menentukan secara pasti kelainan
tersebut. Untuk menentukan apakah hal tersebut merupakan kanker atau hanya BPH
biasanya akan dilanjutkan dengan prosedur biopsi yang membutuhkan sedikit
sedatif dan anastesi lokal. Jarum akan dimasukkan di tempat yang sama untuk
mengambil jaringan prostat.1, 2, 8, 11, 12

BACK TO TOP