A. sebagai bacaan anak merupakan kontruksi yang dibuat

A.  
PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan zaman, pada saat ini
pembentukan karakter merupakan sebuah keharusan untuk lebih ditekankan lagi.
Hal tersebut karena banyaknya faktor yang mempengaruhi dalam proses pembentukan
karakter anak. Faktor-faktor tersebut seperti banyaknya kasus yang terjadi saat
ini dan sudah terpublikasi oleh berbagai macam media pemberitaan antara lain
penyimpangan sosial, kekerasan, tawuran, bullying,
pelecehan seksual, serta pengaruh game
online seperti mencuri, bolos sekolah, berbohong dsb. Maka dari itu,
sebagai salah satu jawaban mengenai persoalan-persoalan masyarakat yang muncul
dari kurangnya bidang pendidikan dalam memberikan nilai-nilai moral kepada anak
atau murid yaitu dengan pencanangan pendidikan karakter.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tujuan dari pendidikan tidak hanya untuk melahirkan
generasi yang cerdas, akan tetapi juga menjadikan generasi yang memiliki
karakter yang kuat. Namun prosesnya tidaklah mudah dan signifikan karena
membutuhkan upaya secara terus menerus dan mendalam dalam membuat keputusan
moral yang harus direalisasikan dengan tindakan, sehingga menjadi suatu
kebiasaan. Dalam merealisasikan semua itu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar
hingga menjadi suatu kebiasaan dan terbentuknya watak
seseorang.

Sekolah menjadi salah satu sarana yang pas untuk
mengajarkan pendidikan karakter kepada anak atau siswa. Ada beberapa ilmu
pengetahuan yang dapat mengajarkan pendidikan karakter selain ilmu agama dan
pendidikan kewarganegaraan, yakni ilmu sastra. Ilmu sastra merupakan media yang
cukup efektif dalam mendidik anak. Adanya sastra sebagai bacaan anak merupakan
kontruksi yang dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu lengkap dengan ideologi
yang membangunnya. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa sastra tidak hanya
bersifat estetik tapi sastra juga dapat dipakai sebagai alat kontrol terhadap
penyimpangan nilai-nilai kehidupan seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya, hukum, dan agama.

Berkaitan dengan ideologi ini, terdapat keinginin untuk
merubah kesadaran mental anak melalui pendidikan karakter yang diajarkan
melalui sastra. Hal ini sesuai dengan manfaat sastra yaitu menanamkan
pendidikan karakter bagi anak. Hal tersebut menjadikan sastra sebagai ilmu
pengetahuan yang menanamkan nilai-nilai karakter yang baik dan bermanfaat untuk
pembacanya seperti anak dan remaja.

B.  
PEMBAHASAN

1.   
Sastra

Bahasa merupakan sebuah
sarana komunikasi antar individu yang mencakup tulisan, isyarat, maupun
kode-kode lainnya. Bahasa Indonesia berperan penting dalam membentuk sebuah karakter
dan kepribadian seperti
keterampilan membaca, menulis, menyimak serta
berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semakin benar dalam pemilihan bahasa yang digunakan maka akan semakin tinggi sebuah karakter dan kepribadian baik yang terbentuk.
Karakter dan kepribadian dapat didukung oleh
sebuah sastra sebagai sumber inspirasi bagi
terwujudnya generasi pribadi yang baik. Dengan demikian, membaca sastra hingga melek sastra dipercaya dapat memperkuat identitas dan kepribadian bangsa Indoneisa.1

Secara etimologi sastra
berasal dari kata sas dan tra. Kata sas berarti mengajar,
mendidik dan memberikan instruksi, sedangkan kata tra merujuk pada alat.
Jadi, dapat diartikan sastra merupakan alat untuk mengajar atau alat untuk
memberi petunjuk. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra
adalah sebuah karya tulis yang memiliki berbagai keunggulan seperti keartistikan,
keaslian, keindahan dalam isi maupun yang diungkapkan. Genre sastra pada
umumnya berbentuk cerita pendek, roman, drama, puisi, prosa dan lirik.2

Menurut Tarigan, sastra memiliki
peranan dalam pembelajaran bagi anak, yaitu berperan dalam pendidikan anak bagi
perkembangan kognitif, perkembangan kepribadian, perkembangan sosial dan
perkembangan bahasa.3 Dalam
perkembangan bahasa, anak yang membaca maupun hanya menyimak karya sastra
secara langsung maupun tidak langsung kosakata anak tersebut bertambah dan memiliki
karakter yang lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu, sastra sangat berperan
dalam meningkatkan keterampilan berbahasa anak dalam berinteraksi sehari-hari.

Pada kehidupan sehari-hari,
kita sering mendengar bahkan menyebutkan sebuah kata cerita anak, bacaan anak
atau sastra anak. Penafsiran terhadap kata-kata tersebut oleh para pakar sastra
menjadi sangat majemuk.4 Sastra
anak adalah citraan dan metafora kehidupan yang
disampaikan kepada anak yang melibatkan baik aspek emosi, perasaan, pikiran,
saraf sensori, maupun pengalaman moral serta diekspresikan dalam berbagai
bentuk kebahasaan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh pembaca anak-anak. Jadi,
sebuah buku dapat dibilang sebagai sastra anak jika citraan dan metafora
kehidupan yang dikisahkan baik dalam hal isi seperti perasaan, emosi, pikiran,
saraf sensori, dan pengalaman moral maupun dalam hal bentuk seperti kebahasaan
dan cara-cara pengekspresian dapat dijangkau dan dipahami oleh anak-anak sesuai
dengan tingkat perkembangan jiwa mereka.5

Nurgiyantoro menyatakan bahwa
sastra anak memiliki sebuah kontribusi bagi nilai personal dan pendidikan anak.
Nilai personal sastra bagi anak, di antaranya 
untuk perkembangan intelektual, perkembangan emosional anak,
perkembangan imajinasi, pertumbuhan rasa sosial, dan pertumbuhan rasa etis dan
religius. Sedangkan nilai pendidikan sastra bagi anak di antaranya perkembangan
bahasa, membantu anak dalam hal eksplorasi dan penemuan, pengembangan nilai
keindahan, penanaman nilai-nilai multikultural, penanaman kebiasaan dan membaca.6 Kajian
terhadap nilai dan manfaat sastra anak bagi kehidupan merupakan sebuah bagian
dari pendekatan pragmatik dalam sastra. Sebuah istilah kata pragmatik menunjuk
pada efek komunikasi seni. Fungsi menghibur serta bermanfaat inilah yang utama diperhatikan
dalam mengkaji karya sastra.

 

2.   
Pendidikan Karakter

Karakter merupakan akhlak
atau sifat yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya.
Karakter juga dapat diartikan sebagai tabiat yaitu perbuatan yang sering
dilakukan atau kebiasaan. Selain dari individu sendiri, karakter dapat dibentuk
melalui hasil bentukan pendidikan seperti dengan cara memberikan pembelajaran
terhadap nilai-nilai.7

Pendidikan karakter merupakan
salah satu bagian yang penting dalam dunia pendidikan. Dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional No 20 Pasal 3 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Agar
tujuan tersebut dapat terwujud maka sebaiknya anak-anak diberikan pendidikan
karakter sedini mungkin.8 Pendidikan
karakter tidak hanya sekadar mengajarkan tentang mana yang baik dan yang tidak baik. Namun, pendidikan karakter
juga mengedepankan penanaman kebiasaan baik sehingga anak dapat memahami mana yang baik dan tidak baik serta
mampu merasakan dan terbiasa untuk
melakukannya.9 Dengan begitu, pendidikan
karakter meliputi pengetahuan yang baik,
berperilaku yang baik dan juga merasakan dengan baik.

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan termasuk berbagai komponen
pendidikan itu sendiri seperti isi kurikulum, proses pembelajaran dan
penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, kualitas hubungan, pengelolaan
sekolah, pemberdayaan sarana prasarana, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ektra
kurikuler, pembiayaan serta ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Tujuan
dari pendidikan karakter dalam meningkatkan mutu hasil pendidikan di sekolah
yang mengarah pada keberhasilan pembentukan karakter dan akhlak mulia anak atau
siswa secara terpadu, utuh, dan seimbang serta sesuai standar kompetensi
lulusan. Melalui pendidikan karakter ini diharapkan anak atau siswa secara
mandiri dapat meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya serta mengkaji dan
menginternalisasi maupun mempersonalisasi nilai-nilai akhlak mulia sehingga terwujud
dalam perilaku sehari-hari.

 

3.   
Sastra Sebagai Media Pembentukan Karakter Anak

Sastra mempunyai peran dalam
dunia pendidikan, yaitu dalam membentuk dan mengembangkan kepribadian anak. Itu
berarti, sastra diyakini mempunyai peran yang cukup besar dalam usaha
pembentukan dan pengembangan kepribadian anak. Karya sastra berfungsi sebagai
media katarsis atau pembersih diri. Menurut para ahli salah satu fungsi sastra
adalah sebagai media katarsis atau pembersih jiwa baik itu bagi penulis maupun
pembacanya. Bagi penulis, setelah menghasilkan sebuah karya sastra, jiwa mereka
akan mengalami pembersihan,  terbuka dan
lapang karena telah berhasil mengeluarkan semua beban dalam perasaan dan
pikiran mereka. Sedangkan, bagi pembaca
setelah membaca sebuah karya sastra menjadikan
perasaan dan pikiran mereka terasa terbuka,
karena telah mendapatkan ilmu dan juga hiburan.

Sastra sebagai media katarsis
dalam pembelajaran sastra juga dapat dimanfaatkan
secara reseptif atau bersifat menerima dan
ekspresif atau kemampuan mengungkapkan dalam
pendidikan karakter. Pemanfaatan secara
reseptif dapat dilakukan dengan dua langkah
yaitu:

a.   
Pemilihan
bahan ajar

Karya sastra yang dipilih
sebagai bahan ajar yaitu karya sastra yang berkualitas seperti karya sastra
yang baik secara estetis maupun etis. Maksudnya yaitu karya sastra yang baik
dalam konstruksi struktur sastranya dan juga mengandung nilai-nilai yang dapat
membimbing anak atau siswa menjadi pribadi yang baik.

b.   
Pengelolaan
proses pembelajaran

Dalam pengelolaan proses
pembelajaran, guru diharuskan untuk mengarahkan siswa dalam proses membaca
karya sastra. Guru juga harus mengarahkan siswa agar dapat menemukan
nilai-nilai positif yang terkandung dari karya sastra yang mereka baca. Guru
tidak diperbolehkan membebaskan siswa untuk menemukan maupun menyimpulkan
sendiri nilai-nilai yang ada dalam karya sastra tersebut. Selanjutnya, guru
membimbing siswa untuk mengaplikasikan nilai-nilai positif yang diperoleh dari
karya sastra yang telah dibacanya dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun pemanfaatan secara
ekspresif, karya sastra sebagai media pendidikan karakter dapat dilakukan
dengan cara mengelola perasaan, semangat, emosi, pemikiran, ide serta gagasan
dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas menulis karya sastra dan bermain
drama, teater, atau film. Sedangkan, Siswa dibimbing untuk mengelola emosi,
perasaan, pendapat, ide, gagasan, dan pandangan untuk diinternalisasi dalam
diri kemudian dituangkan ke dalam karya sastra yang akan mereka hasilkan berupa
drama, novel, puisi, pantun dan cerpen.

Pembelajaran sastra ditujukan
kepada pertumbuhan sikap apresiatif terhadap karya sastra, yaitu dengan
menghargai karya sastra. Menanamkan berbagai pengetahuan dalam pembelajaran
sastra diantaranya karya sastra (kognitif), menumbuhkan rasa cinta terhadap
karya sastra (afektif) serta melatih keterampilan dengan menghasilkan karya
sastra (psikomotor). Kegiatan apresiatif sastra dilakukan melalui beberapa
kegiatan di antaranya:

1.   
Reseptif
yaitu seperti membaca dan mendengarkan karya sastra dan menonton pementasan
karya sastra.

2.   
Produktif
yaitu seperti mengarang, bercerita, dan mementaskan karya sastra.

3.   
Dokumentatif
yaitu misalnya mengumpulkan cerpen, puisi, dan membuat kliping tentang informasi
kegiatan sastra. Pada kegiatan apresiasi sastra pikiran, perasaan, dan
kemampuan  motorik dilatih dan
dikembangkan. Dari beberapa kegiatan apresiatif, dokumentatif ini merupakan
kegiatan yang lumayan besar sumbangannya terhadap pendidikan karakter. Hal
tersebut karena tidak semua anak atau siswa mau atau mampu mendokumentasikan
sebuah karyanya.

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut terbukalah sebuah
pikiran yang kritis, kemampuan motorik yang terlatih serta perasaan yang peka
dan halus. Dari semua yang telah dipaparkan merupakan modal dasar dalam
pengembangan pendidikan karakter. Jika kegitan-kegiatan tersebut sering
dipraktikkan, maka nilai-nilai karakter yang berasal dari karya sastra akan
tertanam di dalam alam bawah sadar anak atau siswa. Dengan demikian,
nilai-nilai karakter yang tertanam tersebut menjadikan sebuah kekuatan nilai
rujukan dalam berperilaku lebih baik lagi pada kehidupan sehari-hari.

 

C.  
PENUTUP

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan
bahwa sastra merupakan alat untuk mengajar atau alat untuk memberi petunjuk. Sastra
juga memiliki peranan dalam pembelajaran bagi anak, yaitu berperan dalam
pendidikan anak bagi perkembangan kognitif, perkembangan kepribadian,
perkembangan sosial dan perkembangan bahasa. Disini juga membahas mengenai
karakter yaitu akhlak atau sifat yang membedakan antara satu individu dengan
individu lainnya. Pendidikan karakter merupakan salah satu bagian yang penting
dalam dunia pendidikan, yakni berfungsi dalam hal mengembangkan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sastra
mempunyai peran dalam dunia pendidikan, yaitu dalam membentuk dan mengembangkan
kepribadian anak. Melalui kegiatan seperti reseptif, produktif dan dokumentatif
menjadikan sebuah pikiran kritis terbuka, kemampuan motorik yang terlatih serta
perasaan yang peka dan halus. Dari semua yang telah dipaparkan merupakan modal
dasar dalam pengembangan pendidikan karakter. Jika kegitan-kegiatan tersebut
sering dipraktikkan, maka nilai-nilai karakter yang berasal dari karya sastra
akan tertanam pada diri anak atau siswa. Dengan demikian, nilai-nilai karakter
yang tertanam tersebut menjadikan sebuah kekuatan nilai rujukan dalam
berperilaku lebih baik lagi pada kehidupan sehari-hari. Adapun saran dalam
pembahasan ini yaitu dalam pembentukan karakter anak tidaklah mudah dan cepat,
maka dari itu bukan hanya di sekolah saja anak mendapatkan pendidikan tetapi
juga di rumah. Menggunakan sastra sebagai media pembentukan karakter anak juga
dapat dilakukan oleh orang tua, misalkan dengan membacakan sebuah cerita
sebelum tidur kepada anaknya.

1 Ririn Ayu Wulandari, “Sastra dalam Pembentukan
Karakter Siswa,” Jurnal Edukasi Kultura Vol.2 No.2 (2015): hal. 4.

2 Tri Ilma Septiana, “Implementasi Pendidikan
Karakter dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra,” n.d., hal. 9.

3 Ririn Ayu Wulandari, “Sastra dalam Pembentukan
Karakter Siswa,” hal. 4.

4 Mursini, “Kontribusi Sastra Bagi Anak- Anak,” Fakultas
Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, n.d., hal. 3.

5 Maman Suryaman, “Pendidikan Karakter
Melalui  Pembelajaran Sastra,” Cakrawala
Pendidikan, 2010, hal. 3.

6 Else Liliani, “Pemanfaatan Sastra Anak Sebagai
Media Mitigasi Bencana,” Jurnal Penelitian Humaniora Vol. 15 No. 1
(n.d.): hal. 4.

7 Else Liliani, “Mengapa Harus Sastra Anak?=Why
Children’s Literature?,” Universitas Negeri Yogyakarta, 2016, hal. 3.

8 Siti Anafiah, “Sastra Anak Sebagai Media
Penanaman Pendidikan Karakter,” Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,
n.d., hal. 4.

9 Else Liliani, “Mengapa Harus Sastra Anak?=Why
Children’s Literature?,” hal. 3.

BACK TO TOP
x

Hi!
I'm Angelica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out